Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Kelas
Kata
sekolah itu berasal dari kata skhole, scolae, atau schola yang berarti
waktu luang atau waktu senggang. Pada waktu senggang tersebut
dahulunya para orang tua Yunani menitipkan anak-anaknya kepada orang
yang dianggap pintar agar memperoleh pengetahuan dan pendidikan tentang
filsafat, alam dan sejenis itu lainnya.
Mencoba
melihat kondisi sekarang sekolah masih dianggap suatu aktifitas yang
menyenangkan oleh sebagian siswa justru di luar jam pelajaran tetapi
jika di dalam jam pelajaran adalah suatu aktifitas yang membebani.
Belum ada penelitian yang khusus mengkaji tentang hal tersebut, tetapi
sepanjang pengamatan penulis, jika para siswa berada di kelas mereka
inginnya keluar kelas atau pulang, jika ada pengumuman pulang pagi,
atau libur, mereka gembiranya tidak kepalang, bersorak sorai, seolah
terlepas dari beban berat yang menghimpit.
Banyak
orang mengatakan bahwa beban kurikulum kita terlalu padat, tidak lagi
mencerminkan suara masyarakat. Peran sekolah cenderung hanya mengajar
dan tidak lagi mendidik. Otak anak dijejali kurikulum yang belum tentu
perlu. Menghargai NEM tinggi, nilai hafalan nama kecamatan, nama tokoh,
tahun sejarah, dan hal-hal yang tak ada keperluannya buat bekal
memecahkan masalah hidup yang di negara maju diangap hanya menambah
sempit disket memori otak anak (Nadesul, 2002:4).
Penulis
pernah membandingkan kurikulum Bahasa Inggris dengan guru Bahasa
Inggris dari Yunani dan Norwegia. Mereka mengatakan bahwa kurikulum
Bahasa Inggris Indonesia aneh. Apabila pembelajaran Bahasa Inggris itu
meliputi empat keahlian membaca, menulis, mendengar, dan berbicara,
mengapa dalam ujian justru tidak ada ujian mendengar dan berbicara?
Lalu untuk apa prose s pembelajaran speaking dan listening selama ini?
Mengapa
menjamur kursus-kursus Bahasa Inggris? Mengapa para siswa masih
mencari lembaga lain di luar sekolah untuk belajar Bahasa Inggris
khususnya speaking? Kalau begitu apa fungsi sekolah dan atau guru-guru
Bahasa Inggris?
Apa
kegunaan buku dan LKS tersebut apabila ternyata para siswa tidak mampu
berbicara Bahasa Inggris? Mengapa kemampuan speaking para siswa lemah
padahal mereka sudah minimal 4 tahun belajar Bahasa Inggris, sudah
mempelajari buku paket dan LKS?
Apa
dampak psikologis terhadap siswa apabila guru Bahasa Inggris menanyai
mereka dalam Bahasa Inggris dan bagaimana dampaknya jika peran guru itu
diganti oleh teman sekelas/sebaya dengan mereka? Apakah pendekatan
tutor sebaya mampu memotivasi para siswa sehingga mereka mendapat
pengalaman berbicara Bahasa Inggris? Apakah keterampilan emosional para
siswa juga berkembang?
Tujuannya;1.
Untuk memberikan suasana baru dan memunculkan imej baru kepada para
siswa bahwa belajar Bahasa Inggris tidak harus selalu melalui metode
konvensional, membuka buku paket, mengerjakan LKS, sehingga para siswa
tidak merasa jenuh/bosan di kelas.
2.
Untuk memberikan suatu gambaran bagi para rekan sejawat, membuka
wawasan bahwa mereka bisa menggunakan metode simulasi tematis selain
metode yang ada untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris siswa.
3.
Sebagai alat bantu untuk memperlancar proses tanya jawab tentang tema
tertentu dengan pendekatan teman sebagai tutor sebaya dengan demikian
diharapkan terjadi pemahaman yang lebih baik atas tema yang dibawakan
di kelas.
4.
Suapaya siswa berlatih untuk memiliki rasa percaya diri dengan
mengurangi peran dominan guru, sehingga mereka dapat mengungkapan
kemampuannya, berlatih speaking secara bebas dan leluasa.
5.
Untuk melihat apakah ada perubahan kemampuan para siswa yang
signifikan setelah dilakukan metode simulasi tematis baik itu dalam
pemahaman, speaking maupun writing
Muatan
kurikulum Bahasa Inggris yang terlalu padat, membahas banyak tema yang
belum tentu dianggap para siswa bermanfaat dalam kehidupan mereka,
dengan tidak dibarengi metode pembelajaran yang menyenangkan, membuat
suasana pembelajaran atau suasana kelas dalam pandangan para siswa
membosankan. Hal tersebut mengakibatkan tidak adanya apresiasi siswa
terhadap pelajaran Bahasa Inggris yang ujung-ujungnya kemampuan
berbahasa Inggris tidak sebanding dengan jumlah anggaran yang
dikeluarkan negara dan kerja keras para guru Bahasa Inggris maupun
siswa itu sendiri. Oleh karena itu perlu dicari solusinya. Salah satu
solusi adalah melalui penerapan metode pembelajaran.
Metode simulasi tematis mampu membuat suasana kelas menjadi hidup dan menyenangkan, juga mendorong peningkatan kemampuan berbahasa inggris siswa yang cenderung lebih baik dalam bentuk pemahaman terhadap tema tertentu maupun dalam kemampuan speaking dan writing.
Meskipun
begitu ada pula kelemahan metode ini. Pertama, membuat kelas menjadi
ramai sehingga kadang-kadang sulit membedakan apakah keramaian itu
memberikan suatu proses pembelajaran atau tidak. Kedua, tidak bisa
dipakai berulang-ulang secara terus menerus. Artinya, mungkin dalam
satu tahun pelajaran hanya 4 - 5 kali penggunaan dalam kelas yang sama.
Ketiga, memerlukan pengawasan yang lebih daripada proses pembelajaran
biasa karena dalam situasi yang demikian ramai, para siswa sering lupa
untuk terus menggunakan Bahasa Inggris dalam simulasi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar